Inilah Waktu Meninggal Yang Baik Seperti Disabdakan Nabi



Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai kabar gembira dengan kebaikan untuknya. tapi tahukan anda ada waktu-waktu yang dianggap baik dalam Islam dalam hal minggal dunia. berikut penjelasannya:


1. Meninggal pada waktu malam atau siang dihari jum'at.
Terdapat dalil yang menyatakan hal ini dari hadits Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, beliau menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum'at atau malam Jum'at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi. Hadits ini memiliki syahid dari hadits Anas, Jabir bin Abdillah dan selain keduanya, maka hadits ini dengan seluruh jalannya hasan atau shahih)

2. Syahid dimedan perang
Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٲتَۢا‌ۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ (١٦٩) فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَٮٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِہِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡہِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (١٧٠) ۞ يَسۡتَبۡشِرُونَ بِنِعۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٍ۬ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (١٧١)

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 169-171)

Dalam hal ini juga terdapat beberapa hadits salah satunya:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun'in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)

Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan: Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan fitnah (ditanya) dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab "Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian)." (HR. An-Nasa'i dengan sanad yang shahih)

3. Meninggal karena penyait tha'un, penyakit perut, tenggelam, dan tertimpa reruntuhan
"Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid." Beliau menanggapi, "Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit." “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?" tanya para sahabat. Beliau menjawab, "Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha'un maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid." (HR. Muslim)

Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tha'un adalah syahadah bagi setiap muslim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang tha'un, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya: "Tha'un itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka Allah jadikan tha'un itu sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Siapa di antara hamba (muslim) yang terjadi wabah tha'un di tempatnya berada lalu ia tetap tinggal di negerinya tersebut dalam keadaan bersabar, dalam keadaan ia mengetahui tidak ada sesuatu yang menimpanya melainkan karena Allah telah menetapkan baginya, maka orang seperti ini tidak ada yang patut diterimanya kecuali mendapatkan semisal pahala syahid." (HR. Al-Bukhari)

4. Meninggalnya seorang ibu dengan anaknya masih dalam kandungannya
Berdasarkan hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu 'anhu. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada dari umatnya di antaranya: "Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungannya adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga." (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi dan sanadnya shahih)

5. Meninggal dalam keadaan beramal shalih
Hudzaifah radhiyallahu 'anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga." (HR. Ahmad, sanadnya shahih)

6. Meninggal karena mempertahankan hartanya, membela agama, dan mempertahankan jiwa/membela diri
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid." (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu 'anhu dan sanadnya shahih)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila datang seseorang ingin mengambil hartaku?" Beliau menjawab, "Jangan engkau berikan hartamu." Ia bertanya lagi, "Apa pendapatmu jika orang itu menyerangku?" "Engkau melawannya," jawab beliau. "Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?" tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, "Kalau begitu engkau syahid." "Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?" tanya orang tersebut. "Ia di neraka," jawab beliau. (HR. Muslim)

Itulah waktu-waktu meninggal yang Insya Allah akan Khusnul Khatimah, tetapi setalah kita tahu waktu jangan juga waktu tersebut kita membunuh diri kita pada waktu-waktu tersebut karena sungguh bunuh diri adalah dosa besar dan terdapat banyak dalil dalil dalam hal bunuh diri. Wallahua'lam [Mustafa/UmmatMuslim.com]

Back To Top